Pelayan Yang Lupa Diri


Pelayan Yang Lupa Diri
Pelayan Yang Lupa Diri
Pelayan Yang Lupa Diri - Rasa kagum tak hentinya terucap dari mulut dan bibir ini, sungguh hebat masyarakat kecil disebrang jalan nan jauh disana, mereka masih bisa tersenyum,tertawa, bahkan menari-nari seolah-olah mereka orang paling bahagia didunia ini , mereka mampu melupakan sejenak penaknya beban hidup ini walaupun hanya sekejap. “DUNIA MEMANG TIDAK ADIL” tapi mau bagaimana lagi, kami tak sanggup melawan dunia, hanya kata-kata itu yang selalu keluar dari mulut mereka, dengan kondisi yang serba tidak adil ini mereka mampu untuk tetap tersenyum, jagankan untuk berangan-angan memiliki harta yang melimpah ruah ,untuk bertahan hidupun mereka harus lalaui dengan perjuangan yang sangat berat, hari demi hari mereka lalui dengan angan-angan hari esok akan lebih baik dari kemarin dan hari ini, hari dimana mereka dapat duduk menikamati kehidupan ini sejenak tanpa harus memikirkan mau makan apa mereka esok hari.

Kota Jakarta, kota yang penuh hingar-bingar kehidupan, kota dengan populasi penduduk terbanyak di negeri kita , sebuah kota yang memberikan harapan untuk mereka yang mengadu nasib di kota ini, kota megapolitan yang tak pernah tidur. Menjadi hal yang wajar jika banyak orang mencoba merubah nasibnya dikota ini, mereka mengais-ngais rejeki yang mungkin masih tersisa untuk mereka. Dibalik hingar-bingarnya ,dibalik tingginya gedung-gedung pencakar langit, dibalik mobil-mobil mewah yang terparkir rapi di depan pertokoan di kota ini, terselip kehidupan yang sangat jauh dari image megahnya kota Jakarta nan mewah ini, kehidupan yang menusuk hati bangsa ini, kehidupan yang jauh dari kata layak, sebauah pemandangan yang menarik tapi memilukan , dibalik image kota megapolita terdapat masyarakat yang hidup dalam keadaan serba kekurangan, tiap hari mereka slalu beradu dengan kerasnya kota megapolitan ini hanya untuk sesuap nasi demi mengganjal perut yang keroncongan, bahkan tak jarang mereka harus menahan lapar sampai berhari-hari, banyak anak-anak penrus bangsa yang berkeliaran dijalan untuk mencari uang demi sesuap nasi , seharusnya mereka berada di sekolahan untuk belajar dan bermain bersama anak-anak yang lain yang lebih beruntung dari pada mereka, orang tua mereka juga tak mampu untuk berbuat apa-apa melihat anak-anak mereka tidak dapat mengenyam pendidikan, jangankan untuk mengenyam pendidikan untuk makan pun mereka masih kebingungan.

Tak hanya pendidikan yang sangat jauh dari saudara-saudara kita disana tapi juga biaya kesehatan menjadi hal yang menakutkan, untuk sakitpun mereka takut, mereka takut akan biaya yang mehal untuk mengobati sakit mereka, bahkan banyak plesetan-plesetan yang menyuarakan orang miskin dilarang untuk sakit, hal ini bukan tanpa alasan, seperti sudah kita ketahui bersama betapa mahlanya biaya kesehatan dinegeri ini, belum lagi banyaknya petugas-petugas kesehatan yang selalu bertindak diskriminatif terhadapa orang-orang miskin dengan cara menolak mereka untuk berobat, RSUD yang notabenya Rumah sakit milik pemerintah yang segala biaya operasionalnya dibiayai oleh pemerintah pun juga masih menerapakan tarif untuk masyarakat misikin yang ingin berobat disana. Seperti kita ketahui bersama tugas Pemerintah adalah mensejahterakan rakayatnya dalam arti tidak ada rakyat yang kelaparan,tidak ada rakayat yang meninggal karena tidak mampu berobat saat sakit, tidak ada penindasan dari oknum-oknum tertentu, tapi mungkin semua itu hanya jargon/slogan belaka untuk mereka yang mengaku wakil masyarakat, Pemerintah yang merupakan pelayan masyarakat sudah menjadi sosok yang antipati terhadap permasalah yang terjdi di masyarkatnya ,mereka sekan-akan sudah buta,tuli bahkan bisu, meliahat permasalahan yang ada, mereka telah lupa akan tugas dan kewajiban memakmurkan masyarakatnya, mereka terlalu asik dalam dunianya ,dunia yang penuh kemewahan, dunia yang tak mengenal kata kemiskinan, sangat jauh berbeda dengan apa yang masyarakatnya rasakan.

Artikel Menarik Lainnya



0 komentar:

Poskan Komentar