Perlukah Keberadaan Menwa di Kampus??

Keberadaan Resimen Mahasiswa di perguruan tinggi terus – menerus mendapat kritik dan perlawanan dari mahasiswa yang tidak sependapat atau anti TNI. Sebagian mahasiswa menghendaki MENWA dibubarkan, disisi lain anggota MENWA masih mengharapkan MENWA tetap exist di kampus perguruan tinggi. Masalah tersebut kalau tidak segera diselesaikan akan menjadi besar oleh karena itu SKB 3 Menteri yang lama diganti dengan Keputusan Bersama Menteri Pertahanan, Menteri Pendidikan Nasional serta Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Republik Indonesia No.KB/14/M/X/2000, No. 6/U/KB/2000 dan No.39 A Tahun 2000, tanggal 11 Oktober 2000, tentang Pembinaan dan Pemberdayaan Resimen Mahasiswa (MENWA) yang lahir sebagai respon positif akibat terjadinya perubahan paradigma di segala bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. SKB baru itu intinya menyatakan bahwa kewenangan TNI sudah terputus atau tidak ada jalur struktural lagi dengan UKM Resimen Mahasiswa.
Pembinaan dan pemberdayaan Resimen Mahasiswa dalam melaksankan fungsi perlindungan masyarakat menjadi tanggung jawab Menteri Dalam Negeri dan Otonomi daerah. Namun demikian kunci pokok keberhasilan kegaiatan MENWA akan sangat ditentukan oleh sikap keteladanan yang dipancarkan oleh Resimen Mahasiswa sendiri
  1. Kalau kita flashback ke masa lalu bahwasanya Menwa ini adalah bagian dari SKB 3 Menteri tahun 1978 yang diberlakukannya NKK/BKK yang dimana Mahasiswa di berangngus atau dimatikan dalam hal kebebasan berpendapat,yang pada saat itu Menwa bertugas untuk memata-matai sesama rekannnya yang guna menjaga stabilitas Negara.Biarkan saja masa kelam itu berlalu berdasarkan SKB 3 MENTERI tahun 2000 ,Keberadaan Menwa saat ini diserahkan kepada Perguruan Tinggi masing-masing sehingga pengawasan saat ini dilakukan oleh kampus masing-masing dan yang pernah saya ketahui menwa sekarang telah bermetamorfosis sesuai rulenya sebagai Mahasiswa.Dan kalau kita meninjau secara yuridis Menwa ini berpegang kepada pasal mengenai bela Negara yakni Pasal 27 ayat 3 dan Pasal 30 ayat 1,berdasarkan Pasal-pasal tersebut keberadaan Menwa tidak lepas dari tujuannya untuk bela Negara.Selain itu tujuan menwa Sebagai wadah penyaluran potensi mahasiswa dalam rangka mewujudkan hak dan kewajiban warga negara dalam bela Negara,Mempersiapkan potensi mahasiswa sebagai bagian dari potensi rakyat dalam rangka Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) serta usaha pengabdian kepada masyarakat dengan mengacu kepada Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dengan tujuan itu semua bisa kita tafsirkan masing-masing bahwasanya keberadaan menwa di kampus saat ini masih sangat relevan dan harus ditingkatkan.Beberapa catatan Permasalahan Resimen Mahasiswa yang utama di kampus adalah mampu atau tidaknya untuk tetap eksis dan selalu mempunyai peran yang konseptual dalam dunia kemahasiswaan. Resimen Mahasiswa yang merupakan bagian dari kegiatan kemahasiswaan yang positif sesuai dengan Keputusa Bersama Tiga Menteri yaitu Menteri Pertahanan, Menteri Pendidikan Nasional serta Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah pada tanggal 11- Oktober 2000 dengan Nomor : KB/14/M/XI/2000, 6/U/KB/2000, dan 39A Tahun 2000 tentang pembinaan dan pemberdayaan Resimen Mahasiswa untuk menghasilkan Sarjana plus serta generasi yang mengerti dan setia pada Konstitusi Negara yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Resimen Mahasiswa haruslah memenuhi beberapa kriteria berikut :
Resimen mahasiswa harus bebas dari muatan politik dan kekuasaan, serta primordialisme. Resimen Mahasiswa adalah Resimen Pendidikan (Training Corps), wadah penggemblengan generasi muda, khususnya mahasiswa untuk menghasilkan calon pemimpin yang berkwalitas dan berwawasan kebangsaan.

Sebagai wadah untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa akan kemahiran berorganisasi. Resimen mahasiswa hendaknya dapat membekali anggotanya dengan leadership dan manajemen yang bertujuan untuk menghasilkan Sarjana plus. Selain itu Menwa adalah wadah untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa akan nilai-nilai keprajuritan dan kebangsaan seperti nasionalisme, patriotisme, berani, loyal, disiplin, berdedikasi tinggi, pantang menyerah, adil dan jujur yang sangat diperlukan dalam era globalisasi dewasa ini.
Nilai-nilai keprajuritan dan kebangsaan akan membentuk etos kerja yang tinggi dan daya tahan luar biasa. bila didukung oleh intelektual yang baik dan leadership yang tangguh serta manajemen yang handal akan menghasilkan pemimpin yang tangguh, berdedikasi, berwawasan kebangsaan dan menjunjung profesionalisme.
Sebagai bagian dari masyarakat akademis anggota Menwa haruslah menjunjung “human right” menghormati orang lain harus hidup bersama dalam perbedaan. Dalam masyarakat kampus yang kita junjung adalah keilmiahan, kejujuran dan kebenaran atau objektifitas. Selain itu terdapat sikap saling menghormati, saling menghargai pendapat orang lain. Kalau ada orang yang tidak setuju dengan MENWA jangan dimusuhi.
Khusus kepada para senior dan pemimpin satuan dalam pembinaan di Resimen Mahasiswa haruslah dapat menyediakan tantangan. Tantangan yang terus menerus akan membentuk orang mempunyai “naluri tempur”. Naluri yang akan membuat seorang menjadi rakus akan tugas-tugas, hal ini bila dilatih terus menerus akan menimbulkan etos kerja.


Read More

Organisasi Kampus

Organisasi Kampus
Organisasi Kampus

Organisasi Kampus - Menelusuri masa-masa berorganisasi di kampus, satu organisasi yang terdiri dari beberapa macam otak dan gaya pemikiran yang berbeda seringkali membuat para anggotanya keteteran dalam menjalankan tampuk kepengurusan. Bagi para mahasiswa yang background organisasi di sekolah menengah tentu tidak akan merasa kesulitan dalam berorganisasi di kampus, mereka hanya beradaptasi kemudian mengembangkan ilmu organisasi tersebut menjadi lebih luas lagi.
Organisasi merupakan kumpulan manusia individu atau berbagai kelompok untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Tidak ada organisasi tanpa tujuan, baik itu tujuan secara tertulis dibahas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga atau tujuan yang hanya tersirat hasil pemikiran para pengurus terdahulu yang diwariskan secara turun-temurun.
Bagi para mahasiswa baru yang tidak ada background organisasi di SMA seringkali merasa ketakutan untuk masuk ke dalam dunia organisasi kampus. Alasannya memang beragam, tapi banyak yang mengatakan masuk ke suatu organisasi kampus akan membuat nilai-nilainya turun dan akan sangat mengganggu aktivitas perkuliahan. Mereka para pemikir-pemikir hebat yang terlalu mengagungkan akademik dibandingkan keterampilan softskill beralasan masuk organisasi hanyalah membuang-buang waktu belajar.

Secara umum kita melihat bahwa orang-orang yang berkecimpung di dalam organisasi hanyalah para mahasiswa yang lulusannya selalu telat dengan IPK yang lumayan buruk. Itulah sekelumit pandangan terhadap para organisatoris. Tunggu dulu, bukannyapemikiran/pandangan itu lahir beberapa puluh tahun yang lalu? Fenomena para organisatoris masa lampau memang kenyataannya seperti itu, dan saya percaya kejadian seperti itu hanyalah sebagian kecil saja dan disampaikan dengan gaya berita yang berlebihan dan tidak berdasar.

Organisasi membuat kita menjadi lebih kritis dalam menghadapi suatu masalah, menjadi lebih peka dengan lingkungan sekitar, juga belajar berinteraksi untuk menyampaikan suatu gagasan yang seringkali berbeda satu sama lain. Seharusnya para organisatoris mengerti betul tentang manajemen waktu, hal itulah yang menjadi suatu kelebihan dibanding orang yang tidak berorganisasi sama sekali. Seabreg tugas dari dosen adalah kewajiban yang harus diselesaikan tapi bukanlah suatu permasalahan untuk kemudian menyelesaikan tugas-tugas dalam organisasi. Jadi apapun nilai IPK yang kita dapatkan tolong jangan sekali-kali menyalahkan organisasi. Ada beberapa organisatoris seringkali mengeluh dengan nilainya yang anjlok, tapi banyak juga yang berterimakasih karena dengan berorganisasi justru membuat nilai menjadi bagus, kemampuan berbicara lancar, dan selalu bertambah teman. Jadi siapa yang salah, organisasinya atau kitanya yang membandel.

Banyak hal-hal positif dengan belajar berorganisasi, baik itu dilingkungan kampus atau organisasi di masyarakat. Organisasi mengajarkan untuk menjadi pemimpin yang bijak sekaligus menjadi bawahan yang baik pula. Tidak ada rasa egois dan individualistis, semuanya berjalan beriringan. Semuanya diselesaikan bersama-sama. Rasa-rasa sakit hati, dicuekin, sedih, menangis, bahagia, puas, tertawa hanyalah bumbu penyedap organisasi itu dan semua orang pasti merasakannya. Jangan takut berorganisasi, karena di sana tersimpan berlian yang akan membuat kita melejit jauh ke depan.

Penulis : Amiruddin Sirregar
Read More

Organisasi dan Paguyuban

Organisasi dan Paguyuban
Organisasi dan Paguyuban

Organisasi dan Paguyuban - Kita sering mendengar kata Organisasi, lalu apakah itu Organisasi? Menurut Asumsi penulis artikel, Organisasi adalah sekumpulan individu yang mempunyai kesamaan tujuan (pemikiran, karakter, hobi, dll) yang terstruktur dan sistematis dan mempunyai sebuah landasan landasan.

Membicarakan Organisasi tidak terlepas dari budaya-budaya Organisasi ditandai dengan adanya sharing atau berbagi nilai dan keyakinan yang sama dengan seluruh anggota organisasi. Sharring inilah yang dapat mempengaruhi perilaku orang-orang dalam sebuah organisasi. Perilaku organisasi sendiri merupakan seperangkat tindakan yang ada didalam organisasi

Perilaku Organisasi melihat bagaimana tingkat individu, tingkat kelompok, serta kinerja baik secara individu, dan kelompok, maupun Organisasi itu untuk berinteraksi satu sama lain. Perilaku Organisasi berusaha untuk mengontrol, memprediksi, dan menjelaskan, pembagian tugas dan tanggung jawab para anggota

Adanya tiga unsur dalam sebuah Organisasi
- adanya sekelompok orang
- adanya landasan landasan
- adanya kesepakatan bersama untuk mencapai tujuan bersama (Tujuan Organisasi)

Jadi dalam sebuah Organisasi terdapat beberapa pola hubungan antarindividu yang memiliki tanggung jawab masing-masing dalam mengwujudkan tujuan Organisasi. Dengan demikian pola hubungan ini membentuk suatu budaya Organisasi, komitmen Organisasi, serta perilaku Organisasi

Lalu apa itu Paguyuban?

Paguyuban diartikan pula sebagai persekutuan atau kebersamaan aneka ragam orang dalam batas kategori tertentu, dengan cirri-ciri sebagai berikut:

• disemangati kebersamaan, keterlibatan, komunikasi, sehati dan sejiwa dalam suka dan duka, untuk menghidupi dan menghayati tugas, karya, dan panggilan hidup dalam mewujudkan visi-misi paguyuban tersebut.
• kebersamaan setiap anggotanya yang se-detak jantung, yang hidup dalam kebersamaan, memiliki kepekaan dan bertindak saling mengasihi sehingga terbentuk suatu komunitas yang sehati-sejiwa.
• bentuk kehidupan bersama yang menghayati solidaritas dalam memanfaatkan segala perbedaan untuk mencapai tujuan bersama.
• kebutuhan untuk hidup berkelompok yang berlandaskan pada kepercayaan yang satu.

Apa hubungannya Organisasi dengan Paguyuban?

Memang semua paguyuban adalah sebuah organisasi akan tetapi tidak semua organisasi merupakan paguyuban. Alasannya jelas, ialah asas dasar dari sebuah organisasi belum tentu cinta kasih (bisa jadi hanya berdasarkan pada kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu atau hanya atas dasar kepentingan saja). Tetapi asas dasar paguyuban (lebih kerennya kita sebut saja “komunitas”) adalah cinta kasih persaudaraan, menghayati solidaritas, toleransi dan prinsip subsidiaritas dalam memanfaatkan segala perbedaan untuk mencapai tujuan bersama di mana para anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni, bersifat alamiah, kekal serta sehati-sejiwa. Singkatnya, dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa persatuan batin yang memang telah dikodratkan.

Lalu Apakah ada sebuah Organisasi yang berprilaku seperti Paguyuban?

Tidak bisa dipungkiri mungkin ada, itu bisa terjadi dikarenakan mindset yang kurang mengetahui tentang pengertian Organisasi, bisa terjadi karena anggotanya yang kurang berkomitmen dan konsisten dengan organisasi tersebut, itu bisa terjadi karena faktor lingkungan atau faktor individu yang kurang memahami tentang fungsionaris menjadi anggota

Penulis : Ramanda Ade Putra
Read More

Mahasiswa Bermuka Kerbau Berorientasi Kearah Babi Hutan

Mahasiswa Bermuka Kerbau Berorientasi Kearah Babi Hutan
                               

Mahasiswa Bermuka Kerbau Berorientasi Kearah Babi Hutan - Dijaman era modern ini mahasiswa sudah tidak menjadi salah satu titik penyeimbang terhadap keadaan stabilitas negara karena kebanyakan mahasiswa sekarang sudah tidak memahami perannya sebagai mahasiswa. salah satu faktornya adalah pergeseran moral terhadap mahasiswa itu sendiri. impactnya Mahasiswa terbagi menjadi beberapa golongan seperti mahasiswa apatis, mahasiswa skeptis, mahasiswa kupu-kupu, mahasiswa organisatoris dll.

Mahasiswa Bermuka Kerbau Berorientasi Kearah Babi HutanPada awal terjadinya dekadensi moral terhadap mahasiswa dikarenakan sistem NKK-BKK(Normalisasi kehidupan kampus- badan kordinasi kampus) pada tahun 1978 di era Alm. Soeharto pada saat penurunan sk-3 menteri (Menteri pendidikan, Menteri dalam negeri dan Menteri pertahanan) yang bertujuan supaya mahasiswa akan terfokus terhadap perguruan tinggi dan orientasinya sudah berhasil mahasiswa kearah study oriented, banyak mahasiswa hanya mengejar nilai-nilai akademisi dan hanya sedikit mahasiswa yang mencoba menyeimbangi antara kehidupan sosial bermasyarakat dan dunia akademisi, outputnya dari produk hukum NKK-BKK (normalisasi kehidupan kampus-badan kordinasi kampus) membuat mahasiswa-mahasiswa menjadi apatis atau resis terhadap dunia per-politikan dan dunia aktivis. ini akan menjadi suatu penurunan kualitas mahasiswa dinegara indonesia ini, padahal sudah jelas basis filosofi dan idealisme mahasiswa sudah tercakup dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi: 1.Pendidikan 2.Penelitian 3.Pengabdian kepada masyarakat. ini menjadi Mensana inco poresano (idelaismenya kesana kelakuannya kesono)

Mahasiswa Bermuka Kerbau Berorientasi Kearah Babi Hutan
Sekarang hampir semua mahasiswa hanya bisa diam dan mengangguk saja terhadap kondisi negara ini yang sudah pincang sebelah. hanya identitasnya mahasiswa tetapi kelakuannya seperti kerbau, yang pada akhirnya mahasiswa bukan menjadi pendorong perubahan kearah yang lebih maju tetapi malah menjadi penghambat perubahan.

pada saat masyarakat miskin yang tertindas oleh kepentingan kekuasaan didalam negeri ini, seakan-akan mahasiswa sudah ternina bobokan terhadap kondisi negara ini yang sudah tercium bau bangkainya dari sabang sampai marauke. Sikap mahasiswa jaman sekarang ini sudah mirip sekali dengan kelakuan kerbau, mungkin bisa saja dikemudian hari sikap mahasiswa berkelakuan seperti babi babi hutan yang berlarian dimalam hari dan hanya bisa mengeluarkan suara "NGOK NGOK"

Penulis: Ramanda Ade Putra
Read More